Mengangkat Harkat dan Martabat Penghuni Lapas Anak Wanita
Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Anak Wanita Tangerang mengadakan training ESQ tingkat dasar, angkatan 1 di Aula Warga Binaan Anak Wanita, Jl. Daan Mogot No. 28 C, Jumat-Sabtu (29-30). Training ESQ Peduli Lapas ini terselenggara berkat kerja sama ESQ Peduli (Lembaga Kemanusiaan ESQ), Koordinator (Korda) Kota Tangerang, dan Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Anak Wanita Tangerang.
Training yang bertema "Training ESQ Peduli Lembaga Pemasyarakatan" dipandu oleh Bramanto Wibisono dan Uus Suryana Fahlevi yang diikuti 178 peserta warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Korda Kota Tangerang banyak melakukan kegiatan sosial di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Wanita Tangerang, di antaranya; Renungan 165 yang sudah berjalan sejak tahun 2008, Pesantren Kilat, dan training ESQ.
Training ESQ menyatukan potensi kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi sebuah kompetensi yang terintegrasi. Training dihadiri Eti Sumardjo selaku Korda Jakarta Barat, Siti Nurhasanah dan Bambang selaku Korwil Pusat Pembinaan Lapas, Ratu Suharyati selaku Korda Kota Tangerang Bidang Pengembangan Spiritual, Irvan Suryaningrat selaku Koordinator Bidang Pembinaan Lapas, dan Forum Silaturahmi Mahasiswa (FOSMA) Tangerang.
Kepala Divisi Pemasyarakatan Banten, Syamsuri dalam sambutan pembukaannya mengatakan, para peserta yang notabene warga binaan Lapas Anak Wanita, telah mengalami disfungsi sosial, sehingga kurang dewasa dalam bermasyarakat. Mereka kurang paham kalau hidup tidaklah sendiri, tapi ada orang lain yang harus dihormati keberadaannya.
Syamsuri menambahkan, dengan training ESQ mereka akan menjadi lebih dewasa, tahu diri, dan dapat menghormati orang lain. Melatih kecerdasan emosional dan spiritual bagi para warga binaan sangat penting agar peserta diingatkan dan lebih waspada.
"Dengan adanya pelatihan ini kita menjadi lebih sadar, dewasa, tidak menjadi orang yang egois, tidak melanggar hukum, dan menjadi warga masyarakat yang baik dan berguna," ungkapnya.
Ketua Yayasan ESQ Peduli (Lembaga Kemanusiaan ESQ), Lea Irawan berharap setelah training; pertama, bagi warga binaan yang akan menjelang bebas dapat menjadi orang yang berguna dan bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat. Kedua, bagaimana pun fitrah manusia harus mengenal jati dirinya, siapa Tuhan-nya, dan tujuan hidupnya. Harus ada pembekalan kecerdasan spiritual yang mencukupi.
Lea menambahkan, training ESQ juga diikuti peserta non muslim berjumlah 22 warga binaan. Pada dasarnya materi yang diberikan ini sifatnya adalah universal, kebaikan itu sebuah keniscayaan untuk siapa pun dengan agama apa pun.
"Training ESQ membantu mengenal jati diri kita semua, kenapa kita dihadirkan di dunia ini, dan mau kemana kita nanti. Apa yang diberikan Allah mari kita lakukan dengan ikhlas. Tidak ada yang kebetulan, sehelai daun yang jatuh pun itu sudah ditentukan oleh Allah SWT. Maka apa yang ada di balik tempat ini adalah hikmah yang besar," paparnya.
Korda Kota Tangerang, Boyke B. Sumantri berharap setelah selesai training ESQ ia berharap dapat memberikan bekal pemahaman ihsan, iman, dan islam kepada warga binaan Lapas Anak Wanita. Insya Allah mereka tidak akan gamang lagi dan merasa terkucil di masyarakat, karena kami berusaha merangkul mereka. Ia juga berharap mungkin upaya ini hanya sebagian kecil yang akan menjadi sebuah berlian yang dapat memberikan andil mencapai Indonesia Emas 2020 dan Dunia Emas 2050.
"Ini sebagian kecil yang kami berikan, mudah-mudahan ini akan mengangkat harkat dan martabat mereka," ungkapnya yang juga alumni ESQ.
Gusti Ayu Putu Suwardani selaku Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Anak Wanita Tangerang mengatakan, training ini saat yang ditunggu-tunggu, karena saya tahu persis materi yang disampaikan, jadi tidak ada salahnya menggabungkan materi ESQ dengan pembinaaan di Lapas. Ternyata memang sejalan dengan visi kita, yaitu menjadikan mereka menjadi manusia yang mandiri.
Tambahnya, warga binaan Lapas Anak Wanita dihuni oleh anak berusia di bawah 18 tahun. Namun setelah ada kebijakan Direktorat Jenderal, akhirnya Lapas Wanita Dewasa yang melebihi kapasitas dialihkan ke Lapas Anak Wanita. Hal ini karena Lapas Anak Wanita semenjak perkembangannya tidak pernah melebihi kapasitas dari 35 orang, sehingga banyak tempat yang kosong. Warga binaan Lapas Anak Wanita umumnya mereka terjerat kasus narkoba dan kriminal.
Peserta, Niken (18) mengungkapkan, banyak yang didapat, mengikuti training ESQ diajarkan belajar memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Ia berharap semoga apa yang didapat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengendalian diri agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.
"Kesalahan-kesalahan di masa lalu seolah-olah kita ingat semua, seandainya waktu bisa diulang pasti gak bakalan ngelakuin kayak gitu," ungkap Niken salah satu warga binaan yang terjerat kasus hukum kriminal.
Kalau seandainya ingin melakukan perbuatan tercela lagi, hati nurani pasti menolak, karena tidak mau masuk ke dalam lubang yang sama. Pengalaman di masa lalu, menjadikan pelajaran berharga baginya. "ESQ is the best."
Hanifah (17) yang juga peserta ini merupakan salah satu warga binaan yang terlibat kasus hukum narkoba. Pengaruh pergaulan membuatnya terjebak dalam lubang hitam. Berada di Lapas dan mengikuti training ESQ membuatnya rajin mengaji dan tahu Asmaul Husna, padahal ketika diluar ia tidak pernah mengaji. ESQ menyadarkannya betapa pentingnya memahami dua kalimat syahadat dan mengetahui perjuangan Nabi Muhammad saw.
"Betapa rahmat Allah begitu besar. Kalau kita masih di luar mungkin gak sebaik sekarang, gak akan tobat," ungkapnya.
Sarah (19) yang juga peserta mengungkapkan, setelah dua hari training ESQ ia merasa takut kalau melakukan kesalahan di masa lalu. Sarah merupakan salah satu warga binaan yang terjerat kasus hukum narkoba.
Ia menyesal, karena menyalahgunakan tubuhnya yang merupakan pemberian Allah dengan sesuatu yang tidak baik. Setelah bebas nanti ia akan berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu. Pengalaman masa lalunya menjadi pelajaran dan peringatan berharga baginya.
"Pelatihan ini penting, karena menjadi peringatan bagi kita agar lebih baik untuk melangkah ke depannya. Setelah training ESQ dapat lebih baik ibadahnya seperti shalat, mengaji, puasa," harapnya.
Training ESQ juga dihibur oleh Sekolah Kami Bitara II, Bekasi Barat dengan permainan angklung dan lagu jali-jali, sue ora jamu, dan tokecang. Sekolah Kami merupakan kelompok belajar non formal yang menampung anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan sekolah. Kehadiran Sekolah Kami dalam rangka sikap kepedulian sesama, anggota Sekolah Kami ini terdiri dari anak-anak kaum dhuafa.
Lebih lanjut Kepala Lembaga Pemasyarakatan, Gusti Ayu mengatakan, dengan mengikuti pelatihan ini mereka dapat menggali potensi dan mengetahui hakikat hidup yang sebenarnya sebagai manusia. Jadi berawal dari diri mereka sendiri lalu dapat berguna bagi orang lain. Manfaatnya luar biasa, mudah-mudahan dengan training ESQ dapat mensinergikan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan di Lapas, jadi sangat mendukung sekali.
"Ia berharap anak-anak sudah mempunyai jati diri yang sebenarnya, sehingga mereka bisa mengikuti aturan dan menjalani pidana dengan tenang, karena biasanya mereka menjelang bebas itu resah. Dengan menemukan hakikat dirinya mereka bisa siap ketika sudah bebas nanti," harapnya. (tino)
Baca juga...
- ESQ for Kids 62: Membangun Benteng dalam Diri
- Bangun Keshalehan Sosial dengan SC2
- Fosma Kampunk 165 Sumut Gelar Training ESQ Peduli Anak Bangsa
- FKA ESQ Riau Gelar Training Peduli Anak Yatim
- Polda Lampung Gelar Training ESQ Bagi 160 Personel
- Rekor, 8.140 Mahasiswa Baru UI Ikuti Training ESQ
- Pengayaan Muslimat NU dengan ESQ
- Training ESQ Eksekutif dengan Semangat Kemerdekaan
- Mengasah Tujuh Budi Utama Insan Media
- SMP Islam Al Ikhlas Pelatihan ESQ Angkatan 4
-
1 hari 1 jam yang lalu
-
2 hari 23 jam yang lalu
-
4 hari 11 jam yang lalu
-
1 minggu 22 jam yang lalu
-
1 minggu 3 hari yang lalu
-
1 minggu 5 hari yang lalu
-
1 minggu 5 hari yang lalu
-
1 minggu 6 hari yang lalu
-
1 minggu 6 hari yang lalu
-
2 minggu 1 jam yang lalu


Komentar
Kirim komentar